Suku Baduy Suka Berjalan Kaki, Memberi, dan Peduli Pemerintahan

Adat dan Tradisi

Di zaman modern dengan berbagai kemajuan teknologi dicampur gaya hidup serba praktis, membuat mayoritas orang akan tidak pede jika melakukan hal-hal manual di depan umum, seperti jalan kaki. Kendati berjalan kaki memiliki manfaat kesehatan yang banyak dan walau payung sudah tersedia dalam tas.

Tapi berbeda dengan suku Baduy dalam, suku yang masih sangat kuat memegang tradisi jalan kaki. Suku yang sudah ada sejak ratusan tahun ini bemukim di sebuah desa pedalaman Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Ada 2 macam suku Baduy, yakni Baduy luar dan Baduy dalam. Suku Baduy luar sudah menerima dan terbuka pada kemajuan teknologi. Mereka menggunakan kendaraan, handphone, televisi, dan sebagainya.

Lain halnya dengan suku Baduy dalam, mereka pantang menggunakan alat-alat elektronik dan transportasi, dan justru bangga dan mempertahankan tradisi jalan kaki. Tradisi ini bahkan dilakukan tanpa menggunakan alas kaki, bahkan meski jarak tempuh cukup jauh.

Tradisi jalan kaki berkilo-kilo tanpa alas kaki bisa dilihat dalam upacara Seba Baduy. Upacara ini dilakukan oleh ribuan orang suku Baduy dalam maupun Baduy luar dan dilaksanakan setahun sekali pada bulan safar.

Dalam tradisi ini, Baduy dalam bersama-sama akan berjalan kaki dari desa mereka ke pusat pemerintahan. Baik itu pemerintah kabupaten menemui “ibu gede” yaitu bupati Lebak maupun ke pemerintah provinsi menemui “abah gede” yaitu gubernur Banten. Di tengah perjalanan ketika tiba di sungai Cigolear, mereka akan melakukan Damarwilis, yaitu menyucikan diri mirip seperti berwudhu agar tidak ada halangan selama perjalanan.

Tujuan dilaksanakannya upacara ini adalah menjalankan petuah leluhur (pikukuh karuhun) untuk datang menemui pemegang pemerintahan menyampaikan nasehat dan memberi hasil panen. Bagi suku Baduy, utamanya Baduy dalam, bercocok tanam merupakan pekerjaan mulia yang harus terus dipertahankan. Sementara memberi hasil panennya pada pemerintah adalah wujud rasa syukur. Syukur atas hasil bumi yang diberikan Tuhan dan ungkapan terima kasih pada pemerintah yang sudah mengatur dan menjaga keamanan kabupaten Lebak dan provinsi Banten.

Ketika suku Baduy sudah diterima oleh kepala pemerintahan, tokoh adat Baduy menyampaikan saran dan nasehat dalam bahasa sunda. Isi saran dan nasehat biasanya meminta pemerintah untuk menjaga keseimbangan lingkungan, menjaga hutan dan gunung, tidak merusak alam, karena ketika alam dirusak maka akan berdampak bencana yang menimpa masyarakat.

Setelah menyampaikan permintaan, tokoh adat secara simbolis menyerahkan barang bawaan berupa hasil bumi seperti beras, pisang, gula merah, petai, sirih, sayuran, dan lain-lain.

Tradisi yang dipertahankan suku Baduy ini sangat sarat pesan moral. Bahwa meski modernitas sudah masuk dalam masyarakat, alam harus tetap terpelihara. Memberi adalah bagian dari perwujudan rasa syukur, dan tentu saja tradisi jalan kaki mereka mengajarkan kegigihan, kesabaran, dan kepercayaan diri memegang identitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *