Sepenggal Kisah Persahabatan Soekarno dan Hatta

Tokoh

“Atas nama bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta” begitu bunyi penutup Proklamasi kemerdekaan RI. Nama Soekarno dan Hatta seolah tidak terpisahkan. Bahkan bagi anak yang baru belajar sejarah sering mengira Soekarno-Hatta itu orang yang satu, yakni nama kepanjangan bapak yang membaca teks Proklamasi, Soekarno.

Kebersatuan Soekarno dan Hatta tidak sampai disitu, paska Indonesia merdeka, mereka membentuk istilah kepemimpinan “Dwitunggal” yang berarti dua pemimpin yang bersatu, dimana Bung Karno sebagai presiden dan Bung Hatta sebagai wakil presiden.

Namun dibalik itu hubungan dua sahabat ini pun mengalami pasang surut, tapi kehangatan persahabatan masih tetap mereka jaga hingga akhir hayat bung Karno pada 1970.

Soekarno Mencarikan Jodoh buat Hatta

Bung Hatta punya sumpah unik bin idealis “saya tidak akan menikah kalau Indonesia belum menikah”. Mengetahui hal itu, paska Indonesia merdeka Soekarno yang peduli saat melihat kesendirian tanpa pendamping hidup sobat seperjuangannya itu berinisiatif menjodohkan Hatta pada seseorang. Ia tahu bahwa kini bung Hatta sudah lepas dari sumpah saktinya.

Akhirnya, dia memilihkan seorang gadis berparas dan berperilaku cantik bernama Rahmi Rahim, anak seorang teman baiknya, Rahim. Saat Soekarno menanyakan perihal pendapat masing-masing, Hatta ditanya soal Rahmi, dan Rahmi ditanya soal Hatta, jawaban masing-masing hanya: diam.

Tapi Soekarno yang mungkin sudah banyak pengalaman justru membaca sikap diam mereka adalah “iya”. Inisiatif beliau berikutnya adalah mengatakan kepada Rahmi bahwa bung Hatta, pria yang terpaut 24 tahun dengannya itu bermaksud ingin melamarnya. Gayung bersambut, Rahmi mau, Rahmi setuju!

Akhirnya pada 18 November 1945 atau tiga bulan setelah dwituggal mengumandangkan kemerdekaan Indonesia, mereka resmi menikah. Kala itu bung Hatta berusia 43 tahun dan Rahmi Rahim berusia 19 tahun.

Soekarno Mendesak Hatta Pergi Berobat

Pada 1956, sebelas tahun setelah Soekarno didampingi Hatta memproklamirkan kemerdekaan, dwitunggal pecah akibat perbedaan pendapat antara Soekarno dan Hatta. Soekarno ngotot sistem pemerintahan RI yang baik adalah Demokrasi Terpimpin, sementara Hatta juga berkeras bahwa sistem pemerintahan Demokrasi Parlementer lah yang tepat untuk Indonesia.

Ia mengkritik dengan tajam bahwa demokrasi terpimpin bukanlah demokrasi yang sesungguhnya karena berpusat pada putusan presiden.

Namun pada 1963, saat Hatta menderita sakit stroke, Soekarno datang menjenguk Hatta. Soekarno yang tahu betul watak sederhana, jujur, sekaligus keras kepala Hatta mendesak agar Hatta mau berobat ke Swedia dengan menggunakan dana negara.

Bung Hatta akhirnya mau dan mereka bertemu di istana negara sebelum bung Hatta diberangkatkan. “Wangsa, jaga baik-baik bung Hatta” begitu pesan Soekarno pada Wangsa, sekretarisnya yang akan mengantar Hatta kala itu.

Hatta Mewakili Soekarno sebagai Wali Nikah dan Menjenguknya sebelum Berpulang

Akibat konflik politik G30SPKI pada 1965, posisi Soekarno sebagai presiden semakin goyang. Paska penyerahan kepresidenan secara de facto kepada Soeharto pada 1966, bung Karno lalu menjadi tahanan rumah di Wisma Yosa, Jakarta. Dijauhkan dari rakyat, dan hanya keluarga dan orang tertentu yang boleh menemuinya, itu pun dibatasi.

Soekarno bahkan tidak bisa hadir di acara pernikahan putranya, Guntur. Akhirnya Soekarno menyuruh Guntur untuk meminta Hatta menjadi walinya. Guntur ragu, apakah pak Hatta akan bersedia? Karena Soekarno dan Hatta kerap silang pendapat soal pemerintahan. Namun, ternyata Hatta dengan senang hati membantu, bersedia menjadi wali nikah mewakili Soekarno.

Lalu, pada Juni 1970, dengan didukung psikis yang stres karena jauh dari rakyat dan kondisi wisma yang kurang bersih, kesehatan bung Karno semakin memburuk. Penyakit komplikasi yang dideritanya semakin parah. Hatta yang mengetahui kabar itu berkunjung ke wisma Yosa untuk menjenguk karibnya itu.

Saat Hatta tiba di kamar tempat bung Karno terbaring, Presiden RI pertama itu tengah tertidur. Melihat pemandangan itu rasa sedih menyeruak dalam sanubari Hatta. Tiba-tiba, Soekarno yang sudah sangat lemah membuka matanya, dilihatnya Hatta di sisinya.

“Hatta, kamu di sini…,” ucap Soekarno lemah.

“Ah, apa kabarmu, No?” Tanya Hatta, dengan panggilan “No”, panggilan akrabnya pada Soekarno.

“Hoe gaat het met jou (apa kabar)?” Soekarno malah balik bertanya dengan bahasa Belanda seperti waktu mereka masih berjuang bersama dulu.

Hatta hanya terdiam, memegang tangan Soekarno erat. Meski sekuat tenaga Hatta menahan kesedihan, pertahanannya akhirnya jebol. Air matanya berlinang melihat kondisi sahabatnya yang dulu kokoh penuh semangat, kini terkulai tak berdaya. Soekarno dengan sisa-sisa tenaganya, mencoba bercakap dengan Hatta meski terbata.

Hari itu adalah hari terakhir Bung Hatta dan Bung Karno bertemu. Dua hari kemudian, 21 Juni 1970, Sukarno menghembuskan nafas terakhirnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *