suku tengger bromo

Sejarah Suku Tengger Gunung Bromo, Jawa Timur

Adat dan Tradisi Sejarah

Suku Tengger yang mendiami wilayah Bromo, tak bisa lepas dari legenda mengenai asal usul Bromo. Karena suku Tengger berasal dari keturunan Roro Anteng dengan Joko Seger. Kata Tengger, diambil dari akhiran keduanya.

Ahli sejarah mengemukakan bahwa suku Tengger merupakan penduduk asli orang Jawa yang sudah mendiami kawasan tersebut sejak zaman kejayaan Majapahit.

Ketika Islam mulai menyebar ke penjuru Nusantara, terjadilah gesekan antara kerajaan di Jawa dengan para penyebar Islam. Tak terkecuali Kerajaan Majapahit yang melarikan diri dengan menyebar ke wilayah Bali, pedalaman Semeru, dan sekitar Bromo, karena sudah terdesak.

Baca juga:

Orang-orang Majapahit yang berlindung dengan mendiami kawasan pedalaman Gunung bromo ini kemudia mendirikan kampung dengan nama Tengger, yang merupakan pemimpin (leluhur) mereka.

Bahasa yang digunakan oleh suku adat gunung Bromo ialah bahasa Jawi Kuno, yang konon diyakini sebagai dialek asli orang Majapahit. Ditambah dengan ditemukannya kitab-kitab berisikan mantra dengan tulisan Jawa Kawi, semakin menunjukan bahwa bahasa yang digunakan berkaitan erat dengan Majapahit.

Di kawasan Tengger, banyak dibangun sekolah-sekolah yang tak kalah maju dengan daerah lainnya di kawasan perkotaan. Unik, masyarakat Tengger masih mempelajari mantra-mantra dan menggunakannya jika dibutuhkan dalam keadaan tertentu, semisal ketika melakukan ritual upacara adat.

Masyarakat Tengger mayoritas memeluk agama Hindu Mahayana, meskipun ada beberapa pemeluk agama lain dengan presentase yang sangat kecil. Mata pencahariannya pun masih didominasi sebagai petani dan sebagian lain sebagai pemandu wisata. Hasil kebun dapat mencukupi kebutuhan masyarakat Tengger. Makanan pokoknya bukanlah nasi melainkan jagung.

Mereka sangat menghargai dan menjunjung tinggi kebudayaan sehingga jangan heran bila masyarakat Tengger sering mengadakan ritual upacara adat, seperti upacara Karo, Kapat, Kapitu, Kawulo, Kasanga, dengan menyediakan sesaji dan menggunakan mantra putih yang dipercaya memiliki energi positif. Tarian sodoran merupakan tarian khas masyarakat suku Tengger, biasanya diadakan saat perayaan Karo dan Kasodo.

Kerukunan antar warga sangat terjalin erat, mereka sangat mempercayai adanya hukum karma. Mereka juga sangat menghormati dukun serta tetua adat pada kelompok masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *