ichiki tatsuo

Samurai Merah Putih Ichiki Tatsuo, Pejuang Indonesia Terlupakan dari Negeri Sakura

Tokoh

Ichiki Tatsuo, merupakan seorang pahlawan nasional yang berasal dari negeri Jepang. Ia lahir di sebuah kota kecil di Jepang bernama Taraki, bagian prefektur Kumamoto, selatan dari Kyushu. Ia adalah anak ke tiga dari enam bersaudara.

Perjalanan bermula saat ia masih belia, di mana saat itu pemuda pemudi desanya mengharapkan kehidupan baru yang lebih layak di tanah asing seperti Amerika Selatan, dan Asia Tenggara. Ia pun turut menunggu kesempatan untuk membawanya pergi dari desa kecilnya.

Kesempatan yang ia nanti pun datang, sebuah surat ajakan oleh teman sekampungnya yang telah sukses di kota Pagar Alam dekat Palembang menarik perhatiannya. Ia pun melakukan perjalanan dan sempat hidup bersama temannya itu.

Tak lama setelahnya, Ichiki mengunjungi kota Bandung karena adiknya menyusul, meninggal dunia di sana. Ia pun melanjutkan kehidupannya di Bandung sebagai pekerja studio foto dan memutuskan untuk tidak kembali ke Pagar Alam maupun Palembang.

Kehidupan di Bandung tak berjalan mulus, hingga membuatnya harus berpindah ke Sumedang dan tinggal di kediaman Iti, seorang perempuan dari keluarga sederhana. Di sini lah ia menemukan kedamaian dan berbaur sebagai masyarakat pribumi.

Baca juga: The Great Wall of Koto Gadang, Tembok Besar di Bukittinggi

Di kampungnya saat itu pun tidak lebih beruntung, namun ia tetap berusaha dengan apa yang ia bisa salah satunya mendalami bahasa Indonesia hingga membuat kamus Bahasa Indonesia – Jepang. Ia pun tetap mengikuti perkembangan politik di tanah kelahirannya dengan menghadiri klub Jepang di Bandung. Di sana ia membaca seluruh media cetak dan surat kabar dari Jepang.

Karena keahliannya dalam bahasa, ia pun sempat bekerja di perusahaan surat kabar lokal sebagai editor dan posisi lainnya di media cetak.

Memasuki tahun 1940, kabar embargo tentara Sekutu dan Belanda terhadap Jepang terdengar oleh Ichiki. Hal ini membuatnya cukup kecewa akan sikap Belanda dan Sekutu.

Baca juga: Sepenggal Kisah Persahabatan Soekarno dan Hatta

Maret 1942 merupakan hari besar bagi Jepang karena berhasil menggulingkan Belanda dari Indonesia. Ichiki pun bangga dan turut bersuka cita bahkan menganggap Jepang adalah saudara tua dari Indonesia. Namun sayangnya ia pun harus segera kecewa, ternyata Jepang malah melarang warga pribumi melakukan aktifitas politik yang berujung sama saja dengan penjajahan.

Pada 7 September 1944, perdana menteri Jepang, Kuniaki Koiso telah berjanji memberikan kemerdekaan pada rakyat Indonesia. Hal ini membuat Ichiki merasa senang dan rasa segan terhadap tanah kelahirannya kembali terbangun.

Baca juga: Buya Hamka, Tahanan Orde Lama yang Imami Shalat Jenazah Sukarno

Namun pada tanggal 15 Agustus 1945, kekalahan Jepang terhadap Sekutu terdengar oleh Ichiki. Jepang yang menyerah kepada Sekutu menyatakan tidak ada sangkut pautnya lagi terhadap pemberian kemerdekaan terhadap rakyat Indonesia. Di hari itu juga ia memutuskan untuk melepaskan identitas dirinya sebagai rakyat Jepang karena kekecewaan besar.

Ichiki kemudian membantu rakyat Indonesia melalui penentangan terhadap tentara Sekutu, dan penolakan pendaratan Belanda kembali di Indonesia. Di saat ini lah ia dianugerahi nama baru yakni Abdul Rachman. Nama Abdul Rachman adalah sebuah pemberian dari H. Agus Salim selaku penasihat Divisi Militer PETA sebagai penghargaan memihak rakyat Indonesia.

Ia pun mendapat mandat untuk memimpin pasukan gerilya ex-Jepang, sekelompok tentara Jepang yang memilih untuk tinggal di Indonesia bernama Zanryu Nihon Hei.

Zanryu Nihon Hei terbentuk pada tahun 1948 di bawah naungan militer Indonesia dengan beranggotakan hanya 28 orang saja. Meski sedikit, kelompok ini cukup ditakuti oleh Belanda karena kegesitannya dan operasinya yang terselubung tak terlihat.

Kisah Abdul Rachman harus tutup buku pada 9 Januari 1949 pada perang sengit di desa Dampit, Jawa Timur. Saat itu, tentara Indonesia terdesak akibat kekuatan Belanda yang besar. Abdul Rachman pun menerobos lontaran peluru Belanda untuk meningkatkan moral pejuang Indonesia. Pria berjulukan Samurai Merah Putih ini pun harus menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelah peluru menembus dahinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *