rosihan anwar

Rosihan Anwar, Sastrawan dan Saksi Peristiwa Bersejarah Indonesia

Tokoh

Rosihan Anwar adalah sosok Sejarawan , Sastrawan dan Budayawan Indonesia. Ia telah menyaksikan berbagai peristiwa bersejarah Indonesia dan turut aktif dalam dunia penulisan.

Rosihan Anwar lahir pada tanggal 10 Mei 1922 di Kubang Nan Dua, Sirukam, Kabupaten Solok. Ia adalah buah hati dari pasangan Maharaja Sutan dan Siti Safiah, anak ke empat dari sepuluh bersaudara.

Semasa hidupnya, ia telah menulis hingga ratusan artikel media cetak lokal maupun asing. Juga, ia telah menulis hingga 21 judul buku. Salah satu karyanya yang terkenal adalah ‘Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia: Jilid 1-4, 2004-2010′.

Ia sempat mengemban pendidikan di sekolah rakyat, Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan berlanjut di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Padang. Setelahnya, ia melanjutkan studinya di Algemeene Middelbare School (AMS) di Yogyakarta.

Tak puas dengan pendidikannya, ia pun melanjutkan studi ke luar negeri di Universitas Yale danĀ School of Journalism, Universitas Columbia di New York City, Amerika Serikat.

Baca juga:

Perjalanan hidupnya dimulai saat ia menjadi reporter media ‘Asia Raya’ pada tahun 1943 masa penjajahan Jepang. Kemudian pada tahun 1947, ia memimpin redaksi ‘Siasat’ dan ‘Pedoman’ (1948) hingga tahun 1961.

Ia pun pernah ditangkap oleh Belanda dan dipenjara di Bukit Duri, Batavia.

Rosihan Anwar mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera III pada tahun 1973 bersama tokoh pers Indonesia, Jakob Oetama, yang diberikan langsung oleh Presiden Soeharto. Namun kurang dari satu tahun setelahnya, media cetak Pedoman yang ia pimpin ditutup oleh pemerintah.

Rosihan Anwar pernah menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia pada masa Orde Baru, tepatnya tahun 1968 hingga tahun 1974.

Rosihan Anwar juga pernah menyelami dunia perfilman Indonesia dengan mendirikan Perusahaan Film Nasional (Perfini) bersama Usmar Ismail pada tahun 1950. Debut film pertamanya berjudul ‘Darah dan Do’a’.

Ia juga berperan sebagai produser dalam film ‘Terimalah Laguku’, dan menjadi kritikus film sampai akhir hidupnya.

Ia menikahi Siti Zuraida, kerabat dari Mohammad Husni Thamrin pada tahun 1947. Pernikahannya dikaruniai tiga anak dan beberapa cucu.

Rosihan Anwar beserta Herawati Diah, mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada tahun 1946 di Surakarta. Kemudian mereka mendapat penghargaan ‘Prestasi Sepanjang Hayat (Life Time Achievement)’ oleh PWI Pusat pada tahun 2007.

Junisaf Anwar dan Yozar Anwar, adik dari Rosihan Anwar, menggeluti bidang yang sama yakni pers Indonesia. Kakaknya Johnny Anwar, adalah tokoh Perwira Tinggi Kepolisian Indonesia yang telah berkontribusi dari jaman revolusi kemerdekaan Indonesia.

Rosihan Anwar tutup usia pada 14 April 2011 di Rumah Sakit Metropolitan Medika Center (MMC) akibat sakit jantung yang dideritanya. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Kalibata, Jakarta Selatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *