Pasukan Bhayangkara, Kesatuan Elite Kerajaan Majapahit

Sejarah

Pada jaman kerajaan Majapahit, terdapat sekelompok pasukan elite yang telah dipercaya oleh raja untuk menjaga kerajaan, pasukan tersebut bernama Bhayangkara. Berbeda dengan pasukan biasa, mereka adalah sekumpulan orang terlatih dengan kemampuan yang luar biasa.

Catatan mengenai pasukan Bhayangkara tertulis dalam literatur-literatur kuno seperti Pararaton dan Negarakertagama.
Kesatuan Bhayangkara sangat terkenal dan berpengaruh saat di bawah pimpinan Gadjah Mada. Bahkan, keselamatan raja beserta keluarganya berada dalam tanggung jawab mereka. Selain keluarga kerajaan, tugas utama mereka tak lepas sebagai pelindung rakyat.

Penggunaan perlengkapan dan peralatan

Pasukan Bhayangkara terkenal akan penggunaan perlengkapan perang yang minim, termasuk senjata. Mereka hanya memanfaatkan perlengkapan seadanya seperti pedang, tombak, panah dan tameng. Keris tidak disebut, karena keris telah dianggap sebagai perlengkapan pakaian.
Karena pergerakan mereka yang cepat dan senyap, mereka tidak menggunakan baju zirah (atau baju pelindung perang) layaknya pasukan biasa.

Pasukan Bhayangkara di Bawah Kepemimpinan Gadjah Mada

Peristiwa besar yang mengangkat nama pasukan Bhayangkara ialah saat terjadi pemberontakan Ra Kuti. Ketika peristiwa tersebut terjadi, Gadjah Mada beserta pasukannya mengawal raja Jayanegara untuk keluar dari ibu kota demi melindunginya dari kejaran pemberontak.
Pada masa persembunyian, Gadjah Mada beserta beberapa orang pasukannya menyelidiki keadaan ibu kota untuk mencari informasi. Berkat informasi yang mereka peroleh, pasukan Bhayangkara berhasil memukul balik kedudukan Kuti di ibu kota dan mendudukan Jayanegara kembali di keraton.

Berkat kontribusi tersebut lah pasukan Bhayangkara menjadi pasukan yang paling disegani.

Pasukan Bhayangkara Selepas Kepemimpinan Gadjah Mada

Sepeninggalan raja Jayanegara, kerajaan Majapahit kemudian dipimpin oleh Tribhuwana Tunggadewi. Tribhuwana Wijaya Tunggadewi adalah penguasa Majapahit ke tiga dengan masa pemerintahan tahun 1328 hingga 1351.

Tribhuwana Tunggadewi kemudian mengangkat Gadjah Mada sebagai Maha Patih sekaligus melepas jabatannya sebagai pemimpin Bhayangkara. Jika disesuaikan dengan jaman modern, kedudukan Maha Patih setara dengan Perdana Menteri.
Meski ia tidak memimpin pasukan Bhayangkara lagi, posisinya sebagai Maha Patih menempatkan pasukan Bhayangkara masih di bawah naungan Gadjah Mada.

Kemudian, terjadi perbedaan sikap antara Gadjah Mada dengan Hayam Wuruk menghadapi kerajaan Sunda. Hingga berujung pada pembantaian rombongan pengantin dari Kerajaan Sunda Galuh oleh pasukan Majapahit termasuk pasukan Bhayangkara. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Bubat.

Setelah Perang Bubat, masih belum jelas apakah pasukan Bhayangkara tetap eksis atau tidak. Namun melihat tugas utamanya sebagai pelindung rakyat, diperkirakan mereka masih beroperasi hanya saja namanya tidak terlalu terdengar jika dibandingkan saat di bawah kepemimpinan Gadjah Mada.

Di era modern, nama Bhayangkara diadopsi oleh Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) sebagai pangkat, jabatan serta julukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *