ngaben bikul

Ngaben Bikul, Cara Unik Usir Hama Tikus di Bali

Adat dan Tradisi

Semua orang tentu setuju kalau tikus merupakan hama pengganggu yang menyebalkan. Keberadaan tikus di rumah saja sudah meresahkan. Apalagi kalau ledakan populasinya sudah mengancam tanaman padi di sawah. Sudah pasti para petani akan berusaha untuk menyingkirkan tikus-tikus yang berpotensi merusak padi tersebut.

Mengintip Upacara Ngaben Bikul Di Persawahan Bali

Para petani Bali rupanya punya cara khusus untuk menghalau keberadaan tikus di sawah mereka. Biasanya para petani akan menggelar upacara adat yang disebut ngaben tikus atau ngaben bikul. Tujuan utama ngaben bikul tentu saja untuk memusnahkan hama tikus yang mengganggu sawah.

Pelaksanaan ngaben tikus mirip seperti upacara ngaben biasa. Seperti yang telah kita ketahui, ngaben adalah istilah untuk menyebut upacara kematian masyarakat Bali.

Sebelum melakukan ngaben tikus, masyarakat dan para petani akan bergotong royong untuk memburu tikus yang merusak padi di sawah. Setelah sejumlah tikus terkumpul, barulah upacara ngaben bikul dilakukan.

 

Makna Khusus Dibalik Upacara Ngaben Bikul

Masyarakat Bali menghargai setiap nyawa mahkluk hidup yang berasal dari Sang Pencipta, termasuk nyawa tikus yang seringkali menjadi hama di sawah. Oleh sebab itu, upacara ngaben bikul dilaksanakan untuk mengantarkan jiwa-jiwa tikus kembali ke sisi Tuhan.

Masyarakat juga berharap agar tikus-tikus tersebut tidak kembal menjadi hama yang merepotkan ketika kembali lagi ke dunia. Sehingga proses bercocok tanam dan panen di sawah menjadi lebih lancar dengan hasil yang melimpah.

Selain menunjukkan penghormatan terhadap segala jenis mahkluk hidup, ngaben bikul juga menjadi simbol kerukunan masyarakat Bali. Tak cuma bergotong royong menangkap tikus, masyarakat juga menyiapkan sarana upacara ngaben bikul secara bersama-sama. Sehingga hubungan antar masyarakat semakin erat dan keseimbangan ekosistem sawah bisa tetap terjaga dengan baik.

Penggunaan pestisida untuk membasmi hama juga terus diminimalkan supaya tidak mengganggu keseimbangan alam dan kualitas hasil panen.

Semoga upacara ngaben bikul terus diselenggarakan secara turun temurun agar manfaatnya bisa dirasakan oleh generasi penerus kita di kemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *