lompat batu nias

Melestarikan Tradisi Lompat Batu dari Pulau Nias

Adat dan Tradisi

Masih ingat dengan uang kertas seribu rupiah berwarna biru yang terakhir kali beredar pada tahun 90-an?

Pada salah satu sisi uang kertas tersebut, terdapat ilustrasi lompat batu dari Pulau Nias. Tradisi dari pulau Nias tersebut dikenal dengan sebutan Fahombo. Sesosok pria dewasa digambarkan sedang melompati tumpukan batu berbentuk prisma yang terpotong dengan ukuran yang cukup tinggi. Sungguh suatu tradisi yang unik dan belum tentu bisa dilakukan oleh semua orang.

Latar Belakang Tradisi Lompat Batu

Pada awalnya tradisi lompat batu terjadi karena konflik yang berlangsung antar suku di pulau Nias. Saat terjadi konflik, setiap bagian-bagian dinding dipenuhi dengan paku dan benda-benda tajam lainnya. Sehingga untuk melompati dinding tersebut, para pria harus bisa melakukan lompatan yang sempurna tanpa mengenai bagian dinding.

Setelah konflik antar suku berakhir, lompat batu perlahan-lahan menjadi tradisi di pulau Nias. Pria yang bisa melompati tumpukan batu setinggi 2 meter dianggap sebagai pria sejati yang bisa mendapat perhatian dari gadis-gadis setempat.

Ternyata Tidak Semua Pria Nias Bisa Melakukan Lompat Batu

Pengenalan tradisi lompat batu pada generasi muda akan diwariskan dari para ayah ke anak-anak lelaki mereka. Sejak usia 7 tahun, anak-anak lelaki Nias sudah mulai dilatih untuk melompati tali secara teratur. Ketinggian tali akan terus ditambah seiring dengan bertambahnya usia dan kemampuan mereka.

Meskipun sudah berlatih keras sejak kecil, ternyata tidak semua pemuda Nias mampu melakukan lompat batu dengan sempurna. Masyarakat Nias percaya bahwa bantuan dari roh nenek moyanglah yang membuat seorang pemuda bisa melompati batu setinggi 2 meter dengan sempurna. Tanpa menyentuh puncak batu, tanpa cidera serta ditutup dengan pendaratan yang sempurna.

Hingga saat ini tradisi lompat batu masih dilakukan oleh masyarakat pulau Nias untuk menarik minat wisatawan yang berkunjung ke sana. Salah satu desa di pulau Nias yang masih melestarikan tradisi lompat batu adalah desa Bawomataluo yang terletak di selatan pulau Nias.

Jangan lupa untuk menyaksikan tradisi unik yang satu ini saat berkesempatan datang ke pulau Nias, ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *