Kura-kura Hutan Khas Sulawesi, Leucocephalon Yuwonoi yang Terancam Punah

Fauna

Di pulau Sulawesi, terdapat reptil langka yang hidup di darat bernama Kura-kura Hutan Sulawesi. Berbeda dari saudara satu rumpunnya, mereka lebih sering ditemukan di kawasan hutan ketimbang di lautan.

Berdasarkan klasifikasi ilmiahnya, Kura-kura Hutan termasuk dalam Kerajaan Animalia, Filum Chordata, Kelas Reptilia, Ordo Testudines, Famili Geoemydidae, dan Genus Leucocephalon.

Dalam bahasa latin, Kura-kura Hutan Sulawesi disebut Leucocephalon Yuwonoi. Masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan nama Kura-kura Paruh Betet, karena bentuk moncongnya yang mirip paruh burung Betet. Sulawesi Forest Turtle adalah sebutannya dalam bahasa Inggris.

Kura-kura Hutan Sulawesi termasuk dalam tujuh reptil terlangka di Indonesia. Bahkan, kelangkaannya pun diakui dunia sebagai ‘The World’s 25 Most Endangered Tortoises and Freshwater Turtles (2011)’ oleh Turtle Conservation Coalition.

Sebelumnya, Kura-kura Hutan Sulawesi termasuk dalam genus Heosemys, namun karena terdapat beberapa perbedaan, kemudian ia digolongkan dalam genus Leucocephalon pada tahun 2000. Nama spesies ‘Yuwonoi diambil dari Frank Yuwono, sang penemu kura-kura langka ini pertama kali.

Leucocephalon Yuwonoi memiliki cangkang berukuran 28 hingga 31 sentimeter untuk jenis kelamin jantan, dan 20 hingga 25 sentimeter untuk betina. Wilayah persebarannya sangat sempit, hanya sebatas wilayah Sulawesi bagian utara.

Mereka melakukan segala aktifitasnya di kawasan hutan pada siang hari (makhluk Diurnal). Mereka hanya kembali ke wilayah perairan saat malam tiba (untuk beristirahat) atau saat musim kawin saja.

Diperkirakan saat ini, populasi Kura-kura Hutan Sulawesi kurang dari 250 ekor saja yang hidup di alam bebas.

Penyebab utama kelangkaannya adalah perburuan liar dan perdagangan bebas. Perkiraan pada tahun 1990 menyebutkan, terdapat 2.000 hingga 3.000 ekor Kura-kura Hutan Sulawesi yang diperjualbelikan ke Tiongkok sebagai makanan. Mereka juga banyak diekspor ke berbagai penjuru Benua Eropa dan Amerika sebagai hewan peliharaan.

Habitatnya terganggu akibat dari perusakan hutan untuk tujuan komersial tanpa mempertimbangkan lamanya proses reproduksi mereka.

Leucocephalon Yuwonoi dinobatkan sebagai reptilia langka dengan tingkat keterancaman tinggi (Critically Endangered) oleh IUCN Redlist. Dan juga organisasi perdagangan satwa dunia, CITES, melarang perdagangan internasional terhadap Kura-kura Hutan Sulawesi yang tertuang dalam daftar CITES Apendiks II.

Namun di Indonesia sendiri, Kura-kura Hutan Sulawesi belum termasuk dalam kategori hewan yang dilindungi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *