edhie soenarso

Edhie Soenarso, Maestro Tugu Dirgantara

Tokoh

Selasa, 5 Januari 2016 dunia seniman tanah air dirundung duka atas berpulangnya salah 1 pematung terbaik, Empu Ageng Edhie Soenarso di usia 83 tahun. Beliau adalah pematung andalan Soekarno yang sukses mencipta karya fenomenal Tugu Selamat Datang dan Tugu Dirgantara di Jakarta.

Amanah Bung Karno

Sejak Indonesia mencapai kemerdekaannya, Soekarno selaku presiden produktif menggagas ide-ide pembangunan jangka panjang yang dapat menjadi ikon dan kebanggaan Indonesia di kancah dunia. Tak luput dari perhatiannya, bidang Dirgantara.

Pada tahun 1964 Soekarno mendaulat Edhie Soenarso membuat 2 Patung ikon kota Jakarta. Patung selamat datang di Bundaran HI dan Patung Dirgantara di Pancoran yang kini lazim disebut Tugu Pancoran.

Edhie sempat ragu dan tidak percaya diri menerima amanah itu. Pasalnya, Soekarno meminta patung dibuat dari bahan perunggu, sementara Edhie belum pernah mengerjakan proyek patung perunggu. Namun Soekarno yakin betul Edhie mampu membuatnya.

Baca juga: Belajar Menjadi Pria Setia dari Mohammad Hatta

Soekarno menggempur Edhie dengan motivasi “Hei Ed, kamu punya rasa bangga berbangsa dan bernegara tidak? Apa perlu saya menyuruh seniman luar untuk mengerjakan monumen dalam negeri sendiri? Saya tidak mau kau coba-coba, kau harus sanggup.”

Akhirnya Edhie menerima tantangan itu. Dengan bantuan rekan-rekan seniman, Patung Selamat Datang dengan gaya antusias melambai tangan seperti yang diperagakan Soekarno pun rampung. Namun nasib patung Dirgantara tidak semulus patung Selamat Datang.

Jatuh Bangun Pembuatan Patung Dirgantara

Tiang penyangga patung Dirgantara sudah berdiri. Namun akibat konflik panas G30S PKI pada 1965 yang menyeret bung Karno ke jurang karirnya, pembuatan patung Dirgantara jadi terhenti.

Namun bukan sifat Soekarno meninggalkan sebuah proyek berharga terbengkalai di tengah jalan. Ia yang saat itu sudah menjadi tahanan politik dengan sakit ginjal yang menggerogotinya, menyempatkan menanyakan Edhie perihal patung Dirgantara.

Baca juga: Wanita Berjasa di Balik Buku Panduan Membaca INI BUDI

Edhie dengan suara redup mengatakan sudah tidak ada dana lagi untuk menyelesaikan patung Dirgantara. Edhie bahkan rela berhutang demi pembuatan patung itu, namun tetap tidak cukup. Pemerintah Soeharto saat itu tidak memberi perhatian lebih pada proyek ini.

Soekarno lalu memanggil Edhie dan menyerahkan uang senilai 1,7 juta rupiah sebagai ongkos penuntasan Patung Dirgantara. Belakangan baru Edhie ketahui dana tersebut hasil dari Soekarno menjual mobilnya. Semakin semangat Edhie merampungkan Tugu Dirgantara mengingat harapan besar Soekarno akan terwujudnya karya besar itu.

Akhirnya pada pagi 21 Juni 1970, saat Edhie berada di puncak patung Dirgantara yang yang sedikit lagi rampung, lewat iring-iringan mobil jenazah. Seorang teman yang ada di bawah memberitahu bahwa itu adalah iringan jenazah bung Karno.

Baca juga: Jenderal Sudirman, Rokok dan Tandu

Duka mendalam sontak menghantam Edhie yang saat itu sedang semangat-semangatnya menyelesaikan amanah Soekarno. Ia segera turun dan menyusul ke Blitar tempat Soekarno disemayamkan, memberi penghormatan dan salam terakhirnya.

Kini Tugu Dirgantara dapat kita lihat berdiri kokoh menunjuk ke depan seolah menyemangati untuk maju. Seperti semangat Soekarno dan Edhie Soenarso yang terus terkenang meski kini keduanya telah berpulang. Selamat Jalan, seniman kebanggakan kami Edhie Soenarso…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *