Cerita di Balik Kepunahan Harimau Jawa

Fauna

Harimau Jawa adalah satwa endemik ciri khas pulau jawa yang kini telah dinyatakan punah. Sosok Harimau bertubuh kuning kecoklatan dengan loreng hitam itu, diklaim telah punah oleh IUCN Redlist pada sekitar tahun 1980.

Melihat dari klasifikasi ilmiahnya, Harimau Jawa termasuk dalam kerajaan Animalia, Filum Chordata, Kelas Mammalia, Ordo Carnivora, Famili Felidae, dan Genus Panthera.

Harimau bernama latin Panthera Tigris Sondaica ini, diduga awal kepunahannya akibat dari sebuah pertunjukan hiburan teranyar pada sekitar tahun 1900an yang bernama ‘Rampogan Matjan’ (atau Rampokan Macan).

Rampokan Macan diselenggarakan dengan menghadirkan beragam jenis Harimau, tidak hanya Harimau Jawa saja. Mula-mula Harimau dilepas di dalam arena pertunjukan, kemudian ia dikepung oleh sekelompok orang yang membawa tombak. Ketika sang Harimau hendak keluar dari arena maka puluhan tombak ditancapkan kepada Harimau malang tersebut hingga tewas.

Baca juga:

Pertunjukan hiburan yang telah memakan korban ratusan Harimau tersebut, kerap kali diselenggarakan di daerah Blitar dan Kediri. Biasanya disaksikan oleh para tokoh adat setempat, pejabat tinggi pemerintahan Hindia Belanda dan juga ribuan penonton lainnya.

Pertunjukan tersebut kemudian dihentikan akibat larangan dari pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1905.

Pada tahun 1950, dilaporkan bahwa jumlah Harimau Jawa yang masih hidup di hutan tinggal 25 ekor saja.

Perkiraan lainnya penyebab kepunahan Harimau Jawa ialah perburuan liar dan perluasan lahan pertanian yang mengganggu habitatnya.

Tahun 1990, beberapa laporan menyebutkan bahwa hewan tersebut masih terlihat. Namun klaim tersebut sayangnya tidak disertai bukti dan dapat diverifikasi.

Penyelenggaraan Seminar Nasional Harimau Jawa di UC UGM tahun 1998, sepakat untuk melakukan “peninjauan ulang” atas klaim kepunahan Harimau Jawa.

Peninjauan ulang tersebut dilakukan melihat beberapa penemuan terbaru berupa jejak kaki, guratan cakar di pohon, dan penemuan bulu milik Harimau Jawa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *