Celepuk Siau

Celepuk Siau, Otus Siaoensis, Hewan Endemik Langka Sulawesi Utara

Fauna

Di pulau Siau, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara, terdapat hewan langka yang bernama Celepuk Siau.

Kelangkaannya menyebabkan minimnya data yang diperoleh. Keberadaannya hanya berdasarkan cerita warga sekitar, dan beberapa ahli menganggapnya telah punah.

Dilihat dari klasifikasi ilmiahnya, Celepuk Siau merupakan bagian dari Kerajaan Animalia, Filum Chordata, Kelas Aves, Ordo Strigiformes, Famili Strigidae, dan Genus Otus,

Hewan yang termasuk spesies Burung Hantu ini, memiliki nama latin Otus Siaoensis. Dalam bahasa Inggris, mereka dikenal dengan nama Siau Scops-owl.

Ukuran tubuhnya relatif kecil, dengan panjang sekitar 17 sentimeter saja. Bagian kepala dan sayap cenderung besar. Akibat dari minimnya data, belum dapat diketahui bobot maupun ukuran tubuh lainnya dengan pasti.

Otus Siaoensis melakukan aktifitas termasuk berburu makanan di malam hari (makhluk Nocturnal), dan beristirahat penuh di siang hari.

Wilayah persebarannya hanya meliputi pulau Siau saja. Diduga mereka menempati wilayah sekitaran Danau Kepetta, Pulau Siau bagian selatan. Gunung Tamata di tengah pulau Siau juga diduga sebagai habitat Otus Siaoensis.

Baca juga:

Kelangkaannya diakui oleh dunia, IUCN Redlist menobatkan mereka sebagai unggas langka dengan tingkat keterancaman tinggi dengan status konservasi ‘kritis’ (Critically Endangered) dari tahun 2000.

Organisasi perdagangan satwa dunia, CITES, melarang aktifitas jual beli internasional terhadap mereka yang tertuang dalam ‘CITES Apendiks II’ dari tahun 1998.

Namun di Indonesia sendiri, Celepuk Siau belum termasuk satwa yang dilindungi.

IUCN Redlist beserta BirdLife International pernah mengadakan penelitian terhadap Celepuk Siau selama 32 hari pada tahun 1998. Namun mereka tidak berhasil menemukannya, data diperoleh hanya dari cerita warga sekitar saja.

Baca juga:

Penampakan visual terlihat pertama kali pada tahun 1866, setelahnya tidak pernah terlihat lagi. Dugaan berkurangnya populasi mereka yakni perusakan hutan dengan tujuan pembangunan pemukiman atau lahan pertanian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *